Senin, 10 Maret 2014
Sabtu, 08 Maret 2014
hey,
somehow, i dont't understand how's life work to me and other people, way too fascinating, kenapa? karena caranya disetiap orang yang berbeda, ada orang yang ditakdirin buat hidup susah, cukup,lebih , ganteng,miskin, dan segala aspek. kadang hidup itu manis tapi sebagian orang merasa kalau hidup itu pahit, apa yang salah? hidup? kita? kebanyakan orang mulai mencoba untuk menyalahkan tuhannya, orang yang kayak gitu biasanya yang larut akan dunia fana, uang semuanya memang butuh uang, kebanyakan orang yang hidupnya kurang menganggap orang yang terguyur duit setiap ia melangkah,bicara, atau bersikap adalah sebuah kesenangan, pernakah berpikir.
'kamu kalau punya duit apa yang kamu akan lakukan.'
kebanyakan orang pasti akan menjawab 'hal-hal tentang hedonisme'
bagaimana setelahnya ketika kamu mempunyai segalanya apa yang kamu inginkan, ketika kamu memiliki dunia apa yang kamu inginkan, ketika kamu bisa membeli seantero galaksi apa yang kamu inginkan, menguasai segalanya sedangkan kamu masih kalah sama lubang hitam, sedangkan kamu masih kalah sama panas matahari, sedangkan kamu belum bisa mengejar kecepatan komet. Apa yang dicari 3 miliar populasi manusia yang berpijak di bumi ? Pernakah mencoba seninya bersyukur, ketika kita menaruh egoisme kita dengan tuhan, dan menggantinya dengan 'untung masih ...' , membiasakan melihat sesuatu dengan melebih-lebihkannya bukan lebay coba ganti dengan metafora, sesuatu yang akan membuat kita tersenyum betapa peluhnya deru keringat karena teriknya matahari, sesuatu yang membuat kita tangguh saat dunia seakan goyah, sesuatu yang akan menahan kita terpuruk saat kita terjatuh. sesuatu seperti kata syukur, sebenernya gue masih belajar untuk mencari seninya bersyukur tersebut, sejujurnya keyakinan gue belum teguh, gue masih mencari jati diri tapi gue percaya kalau Allah SWT diatas segala-galanya, hanya saja gue belum menemukan alasan yang kuat untuk gue bisa menemukan islam gue yang sejati, gue harus tau kenapa gue jadi muslim, gue harus tau untuk apa gue bersikap layaknya yang tertera dalam Al-Quran dan Hadits, gue harus tau dimanakahg gue akan berdakwah. bukan karena belajar filsafat semua ini udah didiskusiin sama orang tua, untuk masalah ini mereka pikir ini proses kedewasaan dimana gue mencari jati diri gue, satu yang bikin gue ga goyah saat ditanya siapa tuhan gue, itu karena Allah SWT selalu ada dan memberikan gue ketenangan disaat gue terpuruk dalam konteks ini adalah pengalaman yang gue alami, Allah SWT tau tapi ia menunggu, semua yang gue lakuin dihidup akan berbalik menjadi cermin, betapa baiknya ia menuntun jalan, Tuhan gue adalah jawaban atas dasar terbentuknya alam semesta dan kembalinya manusia saat ia mati . kita hidup selalu ada feedback mau berkaca? selalu ada orang yang punya masalah yang lebih berat. kayak bumi yang menopang manusia beserta dosa-dosanya. dan dengan ga malunya masih mengeluh.
somehow, i dont't understand how's life work to me and other people, way too fascinating, kenapa? karena caranya disetiap orang yang berbeda, ada orang yang ditakdirin buat hidup susah, cukup,lebih , ganteng,miskin, dan segala aspek. kadang hidup itu manis tapi sebagian orang merasa kalau hidup itu pahit, apa yang salah? hidup? kita? kebanyakan orang mulai mencoba untuk menyalahkan tuhannya, orang yang kayak gitu biasanya yang larut akan dunia fana, uang semuanya memang butuh uang, kebanyakan orang yang hidupnya kurang menganggap orang yang terguyur duit setiap ia melangkah,bicara, atau bersikap adalah sebuah kesenangan, pernakah berpikir.
'kamu kalau punya duit apa yang kamu akan lakukan.'
kebanyakan orang pasti akan menjawab 'hal-hal tentang hedonisme'
bagaimana setelahnya ketika kamu mempunyai segalanya apa yang kamu inginkan, ketika kamu memiliki dunia apa yang kamu inginkan, ketika kamu bisa membeli seantero galaksi apa yang kamu inginkan, menguasai segalanya sedangkan kamu masih kalah sama lubang hitam, sedangkan kamu masih kalah sama panas matahari, sedangkan kamu belum bisa mengejar kecepatan komet. Apa yang dicari 3 miliar populasi manusia yang berpijak di bumi ? Pernakah mencoba seninya bersyukur, ketika kita menaruh egoisme kita dengan tuhan, dan menggantinya dengan 'untung masih ...' , membiasakan melihat sesuatu dengan melebih-lebihkannya bukan lebay coba ganti dengan metafora, sesuatu yang akan membuat kita tersenyum betapa peluhnya deru keringat karena teriknya matahari, sesuatu yang membuat kita tangguh saat dunia seakan goyah, sesuatu yang akan menahan kita terpuruk saat kita terjatuh. sesuatu seperti kata syukur, sebenernya gue masih belajar untuk mencari seninya bersyukur tersebut, sejujurnya keyakinan gue belum teguh, gue masih mencari jati diri tapi gue percaya kalau Allah SWT diatas segala-galanya, hanya saja gue belum menemukan alasan yang kuat untuk gue bisa menemukan islam gue yang sejati, gue harus tau kenapa gue jadi muslim, gue harus tau untuk apa gue bersikap layaknya yang tertera dalam Al-Quran dan Hadits, gue harus tau dimanakahg gue akan berdakwah. bukan karena belajar filsafat semua ini udah didiskusiin sama orang tua, untuk masalah ini mereka pikir ini proses kedewasaan dimana gue mencari jati diri gue, satu yang bikin gue ga goyah saat ditanya siapa tuhan gue, itu karena Allah SWT selalu ada dan memberikan gue ketenangan disaat gue terpuruk dalam konteks ini adalah pengalaman yang gue alami, Allah SWT tau tapi ia menunggu, semua yang gue lakuin dihidup akan berbalik menjadi cermin, betapa baiknya ia menuntun jalan, Tuhan gue adalah jawaban atas dasar terbentuknya alam semesta dan kembalinya manusia saat ia mati . kita hidup selalu ada feedback mau berkaca? selalu ada orang yang punya masalah yang lebih berat. kayak bumi yang menopang manusia beserta dosa-dosanya. dan dengan ga malunya masih mengeluh.
Langganan:
Postingan (Atom)
